skip to main | skip to sidebar

About me

Foto Saya
Listyo Hapsari
Secuil pun tidak berguna tanpa kebahagiaan :)
Lihat profil lengkapku

Archivo del blog

  • ▼ 2015 (1)
    • ▼ Februari (1)
      • Hujan dan Sunyi
  • ► 2014 (2)
    • ► April (1)
    • ► Januari (1)
  • ► 2013 (7)
    • ► Agustus (1)
    • ► Mei (1)
    • ► April (3)
    • ► Maret (2)
  • ► 2012 (7)
    • ► Juli (1)
    • ► April (4)
    • ► Februari (2)
  • ► 2010 (2)
    • ► Agustus (2)
Diberdayakan oleh Blogger.

Seguidores

Sample Widget

Links

Teduh

Hujan dan Sunyi

Rabu, 11 Februari 2015


Hujan di tegah malam pertengahan bulan Februari. Mungkin akan terasa nikmat jika bertemankan segelas kopi hangat dan musik-musik yang memekak kan telinga. Suara sumbang muncul melalui speaker komputer lipat warna biru. Nada-nada gundah menggrenyut serta merta mematahkan perasaan. Harusnya malam ini tugas-tugas perkuliahan segera dikerjakan, tapi entahlah, malas. Hujan di luar terasa nikmat dipadukan dengan suara penyanyi yang sumbang ini. Lirik lagunya pun membuat tubuh serasa ingin melamun saja. Kenangan akan masa lalu memang sudah mulai memudar, terlarut dalam bualan masa depan. Tak perlu di ingat, tak perlu dilupakan. Asal jangan menjadi gila dan hilang sadar.

Malam hujan, ada perasaan yang tetap mengganjal. Berjanji untuk tidak keluar dari "border" yang telah dibuat. Can I? Nyatanya kisah masa lalu tidak akan pernah bisa sepenuhnya dilupa. Masa lalu? Nyatanya itu hanyalah kisah satu tahun yang lalu, bukan kisah yang bertahun-tahun lalu dijalani.
Wanita memang ditakdirkan untuk mengingat segala kesakitan. Bukan kah wajar jika aku masih sering mengingat hal itu? Bahkan menurutku tidak ada seorang wanita pun yang ingin selalu mengingat kisah pesakitan tersebut. Tapi aku yang seorang wanita ini bisa apa?
Sekedar mengucapkan "apa kabar?" pun harus menunggu beberapa bulan agar tetap bertahan dalam "border". Aneh, garis ini mampu membuatku bertahan untuk tidak mengirim pesan kepada sang "merk kibor". Menuggu beberapa bulan, mulai lupa, namun ingat kembali dan hampir saja menerobos batas teritorial. Goblok!

Suara sumbang ini tetap saja nggambleh di speaker komputer lipat. Menyebabkan suasana semakin "entah". Yep! Terimakasih lagu, beberapa menit terdengar, namun mampu mengeruhkan perasaan. Terimakasih kepadamu, yang pernah menjadi bagian dari perasaan.

Diposting oleh Listyo Hapsari di 10.14 0 komentar  

When Lilian Wept

Jumat, 04 April 2014

Sepeda besi di bawah pohon jambu, bisakah tetap disitu? Berawal pada siang hari panas seksi, ku lihat sesosok lelaki mirip kawan SMA ku mendorong Jupiter menyusuri lorong gang. Oh Dewata, paginya aku langsung menyerupai wartawan tanya ini-itu kepada kawanku, siapakah lelaki itu? Oh rupa-rupanya kakak kandung si empunya Jupiter biru. Lalu kami saling ngobrol mrono-mrene tentang kejadian itu, masyaallah ternyata ada makhluk keren ngontrak di depan rumah yang ternyata berteman dengan si kakak temanku. Masih ingat, 15 Agustus beberapa tahun lalu, makhluk itu mengirim permintaan pertemanan lewat akun facebook. Saat itu rasanya masih biasa, masih belum terasa. Seenaknya ngobrolin tetangga, lintah dekat keran air, emping kuning-kuning kunang-kunang, sampai juga ngomongin guru Sosiologi, ah! padahal dia enggak kenal guru sosiologi ku! Curi-curi aku mecuri pandang tiap lewat depan kontrakan, sering juga melihat dia menuntun sepeda motornya dengan celana pendek sedengkul. Sampai akhirnya dia pamitan mau pindah kontrakan, katanya. Waktu itu sesudah maghrib, dia dan kawan-kawannya pamitan ke orangtua ku, maunya sih ikutan menyambut, tapi nggak berani. Terus dia pergi, jauh, nggak ada kabar. Semakin lama, akunya semakin suka, entah, padahal dengar suaranya nggak pernah, kenapa bisa jatuh cinta? Hey, sekarang aku sudah semester 4 di perkuliahan, sudah besar, bukan anak kecil lagi :) sampai sekarang belum bisa lupa, kan nggak mungkin bisa lupa. Untuk apa memilih seseorang yang kita inginkan jika akhirnya untuk dilupakan, kan? Memaksa melupakan, atau mungkin menguburnya, jangan terlalu dalam, biar suatu saat bisa ku ambil kenangan itu, lalu senyum-senyum sendiri dan akhirnya menangis. Oh semesta, memaksa menyukai orang lain juga susah ternyata. Dipaksa bagaimana pun tetap susah, kalau ternyata cuma dia yang aku suka. Memaksa diri menjadi seseorang yang multi-stalking, mulai dari facebook, twitter, blog, tumblr, searching di google sesuatu yang semuanya berhubungan dengan dia. Hey makhluk Pacitan yang bernamakan makhluk bule, aku merindukanmu, kerasa nggak? Iya, dia selalu bilang "See you when I see you", aku selalu mengamini juga. Aku tahu, dia sekarang tinggal di daerah dekat masjid Baiturrahman, diam-diam aku selalu melewati depan kosannya, siapa tahu diaya nongol dengan sepeda motornya. Oh malam, hujanmu memberikan aroma petrichor dan kerinduan. Aku mendengar nyanyian di dalamnya, karena nyanyian hujan hanya bisa didengar oleh mereka yang merindu.. Maafkan aku, semesta..

With love, your Lilian..

Diposting oleh Listyo Hapsari di 08.48 0 komentar  

Bertahan Atau.....Melepaskan?

Kamis, 02 Januari 2014

"Terkait hati, banyak hal yang terkadang tak masuk akal. misalnya, memilih setia walaupun tanpa kejelasan..harapan yang bersinar-sinar ketika ada sms masuk tanya 'hai, apa kabar?'..bahkan menyelesaikan apapun secepatnya biar bisa 'meluangkan' waktu buat si dia, yang padahal lagi-lagi belum pasti jadi. Yah, karena manusia punya rasa" -Rohadi Apri.



Kadang aku bingung dengan pilihan.
Ketika hati harus memilih bertahan atau melepaskan.
Ketika keadaaan memaksaku untuk bertahan dalam ketidakpastian.
Sangat menyedihkan ketika jiwa mengetahui bahwa dia tak akan menjadi milik ku, bahkan pada janjinya untuk menemuiku tak pernah dia ingat lagi.
Berkali-kali aku katakan kepada perasaanku,
“hey, seharusnya kau menyerah. Lihatlah dia, dia tak menginginkanmu!”
Tentu, perasaanku menolak.
Lalu ku katakan lagi,
“Apakah kau bodoh, dia tidak akan menepati janjinya!”
Bagaimana pun, dia adalah lelaki yang berhasil menguasai pikiranku.
Dia adalah lelaki yang berhasil merebut perasaanku.
Akan tampak bodoh jika aku melupakan apa yang sudah ku pilih.
Bahkan jika saja dia harus meninggalkan perasaanku, aku tak akan mau mengusirnya.
Akan kubiarkan dia melangkah meninggalkan perasaanku sendiri.
Aku tak ingin menangisinya, bahkan saat aku merasa sesakit ini.
Aku tak peduli, aku tetap mencintaimu.


Diposting oleh Listyo Hapsari di 06.22 0 komentar  

Melupakan Apa Yang Kita Pilih...

Jumat, 23 Agustus 2013

"Tentu kita punya alasan mengapa dulu memilihnya, melupakan apa yang kita pilih adalah sesuatu yang memalukan diri kita sendiri, plin-plan, mengapa memilih kalau akhirnya dilupakan?" -Rohadi Apri. Ya, pria itu bernama Rohadi Apri, Ayah Roha sering kusebutnya dengan panggilan itu. Ada banyak alasan mengapa aku lebih memilih menceritakan segala keluh ku kepadanya, dia kakak angkatan di organisasiku. Dia cerdas memberiku semua nasihat yang bisa membuat otak ku berpikir jernih. Dia mengambil jurusan Sastra, itu pun yang membuatnya pintar mengolah kata untuk berdebat denganku saat kami minum kopi. Aku sering menceritakan tentang 'dia' yang setahun belakangan ini bergentayangan di pusat alam bawah sadar pikiranku Tentu saja, untuk apa mempertahankan 'rasa' ini yang sama sekali mustahil untuk diwujudkan. Aku selalu ingin melupakannya, tapi gagal, dan hanya bisa pasrah.
Mencintainya seperti halnya saat membeli sepatu. Aku berkeliling toko tersebut, mencari sepatu yang terbaik.Banyak sepatu bagus di toko ini, namun hanya satu yang ingin ku beli. Yang cocok kupasangkan di kaki ku, sehingga nyaman untuk ku lalui semua jalan  Tentu saja dia bukan sepatu, tak bisa kubandingkan 'bumi' ku seperti sepatu. Aku sadar rindu yang menyembul ini tak mungkin menyeruak masuk ke dalam hatimu, bahkan mengintip pun tak bisa! Kau memang tampak spesial dengan segala apa yang kau punya. Sekarang aku mulai mengerti, aku tak akan melupakanmu. Namun, ada saatnya ketika kau akan terkubur dalam ingatanku, dalam, dalam sekali. Sehingga tak ada lagi yang perlu aku takuti akan perasaan itu, suatu saat tak mungkin hadir lagi, suatu saat. 

"Walaupun itu tidak sejalan, bahkan meyakitkan, tidak pas rasanya dilupakan. Bahkan kalau bisa malah berjalan berdampingan, agar jadi pembanding dalam memilih jalan yang baru" - Rohadi Apri. Ya Allah ya Tuhanku, akupun tak sekuat apa yang orang lihat. Aku tak mungkin selalu memasang tampang tanpa beban, tapi dia bukanlah beban, namun terasa berat saat semuanya harus menggunakan 'rasa'. Aku tahu, semua akan terasa berat ketika harus mengawali dengan perasaan. Namun, logika pun tidak bisa mengalahkan rasa yang ku punya. Cinta bisa membuatku melupakan waktu, tapi waktu juga bisa membuatku melupakan cinta. Entah, aku sudah terlanjur bingung.

Ku teguk kopi dalam cangkir. Gusti, emping pun membuatku terbelalak mengingatnya, emping kuning-kuning kunang-kunang. Katanya, dia adalah orang bodoh. Dulu dia selalu bilang begitu. Mengapa mencari bahagia yang sudah jelas ada dalam diri kita masing-masing. Ah sudahlah, kupikir lebih baik aku tidur. Dank u, Phil :)

 Yogyakarta, 24 Agustus 2013. Pukul 02:40 dini hari.

Diposting oleh Listyo Hapsari di 12.38 0 komentar  

Phil, Kamu Kemana?

Rabu, 01 Mei 2013

Sudah seberapa lama kamu menghilang, Phil?
Apa memang aku tak pernah ada di bait kisah hidupmu?
Dimana kamu yang dulu berhasil membuatku bahagia?
Kapan kamu kembali? Membuatku bahagia, sangat bahagia..
Apakah aku terlihat mengemis menjijikan?
Aku bukan pengemis, cuma ingin kamu kembali mengisi kosong kebahagiaanku..
Sebegitu nggak pentingkah aku dihidupmu?
Aku masih ingin kamu disini, Phillip..
Apakah dengan perginya kamu,
kamu ingin menunjukkan adanya bahagia yang lain yang bisa ku dapat?
Belum bisa, Phil..
Kamu sangat spesial dalam hari-hariku.
Aku rindu ucapan 'sleep tight' yang kau kirim lewat pesan singkat ke henponku.
Aku rindu membaca setiap kalimat yang kau buat.
Aku rindu keunikanmu.
Aku rindu panggilan 'Lilian' yang kamu beri untuk ku.
Apakah kamu masih mau memanggilku dengan nama 'Lil'?
Apakah kamu masih mau membalas semua pesan singkat yang ku kirim?
Aku rindu kebahagiaan..
Menyukaimu adalah suka cita terdalam yang pernah kurasakan.
Allah memang Tuhan yang Maha Keren, Dia menciptakanmu yang juga keren namun tak melebihiNya.
Kerennya kamu bisa buat saya seperti gila.
Seakan kamu candu yang membuat aku mabuk.
Kamu mengajarkanku cinta yang mubadzir, buang-buang usaha :)
Terimakasih telah mengajarkanku sabar beserta rasa sakit yang ikut serta :)
Aku akan tetap menunggumu, sampai aku tidak bisa menunggu lagi.
Siapa tahu Tuhan mau melebihi kapasitas kebaikanNya dan mengabulkan segala keinginanku.
Phil, kamu tidak bisa menentang kemauan Tuhan hihi :)

Diposting oleh Listyo Hapsari di 23.33 0 komentar  

Monoton

Senin, 22 April 2013

Hidupku yang dulu tertawa, sekarang menjadi diam.. Bisu seketika oleh sebab yang aku sendiri tak tahu. Rasaya hampa. Kalau hidupmu selalu penuh dengan pertanyaan "hai.. apa kabar?", tidak denganku. Begitulah hidup, menjadi apatis saat kau menjadi mahasiswa. Buktinya tak ada satupun yang bertanya tentang bagaimana kabarku. Bukan hanya itu, semua menjadi acuh dan menjauh hanya untuk sekedar menyapa atau membalas pesan singkat. Hari-hariku mulai membosankan, dimulai dengan bangun dari tidur, mandi, kuliah, makan, kuliah lagi, pulang ke rumah, lalu menonton teve, kemudian tidur lagi. Dan begitulah seterusnya sampai aku benar-benar bosan. Aku punya teman?
Ya, memang. Tapi dimana mereka? temanku yang menolak mengantarku ke toko buku untuk bertemu seorang penulis, yang mengaku bahwa kakinya sedang sakit, sehari setelahnya mengajakku ke acara ulangtahun temannya, teman barunya di kampus, yang belum begitu dia kenal, yang sama sekali tidak aku kenal. Sontak aku emosi, aku menolak ajakannya. Bukan dendam, hanya ingin menegaskan bahwa aku bukan babunya yang bisa dia suruh kapan saja. Lalu, kemana teman-temanku yang lainnya? Yang sok mengajak bertemu lewat akun twitter, mereka juga hilang. Ya, hidupku mulai sepi. Aku mulai membenci mereka. Bagaimana dengan teman baru ku di universitas? Aku tidak merasa dekat dengan mereka, hanya beberapa yang dekat, hanya si Nur si Arum dan si Dila. Itupun hanya dekat saat di kampus. Semua kekesalanku hanya bisa aku limpahkan lewat coretan dan tulisan. Kenapa tidak cerita ke orangtua? Menurut mereka, ceritaku tidak penting, terkadang hanya kata "bodoh" yang mereka ucap kepadaku saat aku bercerita. Lalu harus kepada siapa aku melimpahkan semua keluh kesah ku? Pacar? ha ha ha that's bullshit! Semua yang ada hanyalah omong kosong. Jiwaku mulai menandakan keapatisan terhadap lingkunganku. Aku sendiri bingung harus berbuat apa. Senyum yang aku tampakkan hanyalah senyum palsu. Aku mulai sulit tidur, mungkin ini tanda-tanda gejala stress. Yep, saking monotonnya aku sampai bingung bagaimana menjalani hidup :)

Diposting oleh Listyo Hapsari di 06.35 0 komentar  

SEMRAWUT

Jumat, 19 April 2013

Hari-hari ku mulai semrawut (nggak karuan). Di mulai dengan ujian filsafat yang menurutku sangat, sangat, sangat, sangat, sangat, sangat menyedihkan. Susah payah menghapal, ternyata lupa apa yang dihapal. Lembar jawaban aku isi secara ngawur, seperti seni, bebas berkreasi :) lanjut lah aku karena pusing mikir ujian, langsung mampir warung mie ayam, dan memesan mie ayam pakai bakso, pakai micin, pakai jamur, pakai sawi, pakai pangsit, pakai bakso goreng, enak, enak sekali. Sampai akhirnya aku sadar kalau tugas resume materi Sejarah Perpustakaan Islam belum selesai, dan hebatnya inilah hari terakhir pengumpulan. Aku syoook! Langsung ku kebut cari-cari bahan materi di internet, rada copas sih, tapi biarin! Aku terlanjur sebel duluan sih :) langsung sehabis jumatan aku kumpul, jeng jeng jeng si dosen ada di kursinya, menghadap leptop dengan tatapan serius, "emm... Pak, Saya mau ngumpul tugas" sambil nyodorin tugas. Beliau jawab "Kenapa baru sekarang? Kapan jadwal terakhir kumpul tugas ini?", aku jelas nggak mau kalah galak dan menjawab "Kan terakhir tanggal 19, Pak!", dan kemudian beliau luluh memberikan amplop wadah tugas dan tentunya presensi :)
Lega rasanya, lalu aku pun kirim-kirim sms ke seorang kawan, biasalah ngajak main, mumpung ada seorang Penulis kesukaanku yang berdomisili di Bandung sedang main-main ke Jogja. Tapi temanku jawab "Maaf ya, kaki ku nggak memungkinkan buat keluar". Ini sungguh kampret sekali, kemarin aku sms dia untuk tanya posisinya, dia jawab "Aku lagi jalan-jalan sama mbak ku nih, kenapa?". Oh what a horrible day! Teman seperjuangan yang tidak ada saat aku butuh! Setiap dia butuh dan ada perlu, dia datang. Tapi giliran aku butuh, dia pergi :) Setiap dia putus, pasti dia nangis-nangis dateng ke aku, disuruhnya aku buat anter-anter dia kemanapun dia mau. Tapi giliran dia udah punya pacar, aku dibuang :) Tapi enggak apa-apa karna memang begitu fungsinya teman, dan hidupku kembali monoton! Sorenya aku kumpul rapat sebuah organisasi di kampus ku, membahas tentang seni rupa, seni lukis. Kami sepakat untuk mengadakan latihan melukis secara rutin tiap minggunya. Kakak yang mengajari kami sangatlah hebat, namanya mas Hexta. Lukisan wajah yang dia bikin super duper awesome!!!! Dia mampu menghidupi dirinya sendiri dengan hanya melukis, dan itu keren!!!! Dan dari cerita hidup beliau lah, aku mulai mensyukuri hidup. Aku mulai menyadari bahwa hidupku sudah sangat luar biasa. Sehabis maghrib aku pulang. Gerimis disini sangat seksi, dan aku suka. Tidak perlu pakai mantel, kan aku suka hujan. Kalau suka hujan kenapa harus pakai mantel? kenapa harus pakai payung? hehehe sampai rumah basah kuyup. Dan hujan-hujan malam ini membuat aku bahagia, setelah banyak kejadian buruk yang membuat unmood hari ini, dan harus tetap bersyukur. Ya Allah ya Tuhanku yang Maha Segala-galanya, terimakasih untuk pelajaran hari ini. Aku bisa menghargai hidup yang telah Kau beri. Aku menjadi mengerti bahwa teman yang benar-benar teman itu sulit untuk di cari. Aku menjadi lebih sabar dalam masalah seperti ini :)

Diposting oleh Listyo Hapsari di 07.57 0 komentar  

Postingan Lama
Langganan: Postingan (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod

Work under CC License

Creative Commons License